A.K.U.N.T.A.N.I.S.M.E

Percaya padaku menjadi seorang akuntan itu membotakkan

Sunday, July 23, 2017

AGENCY THEORY AND ANALYSIS OF CONFLICTS (PART 1)

1:37 PM

Understanding game theory
Game teori membahas beberapa masalah dalam teori akuntansi keuangan. Game theory menunjukkan reaksi antara dua arah atau lebih. Setiap rang berusaha memaksimalkan utilitas. Perbedaannya adalah pemain harus menunjukkan aksi secara formal kepada yang lainnya. Aksi ini sulit diprediksi karena tergantung pada pikiran permainan. Game theoy cenderung lebih kompleks. Pengenalan formal terhadap konflik memperluas pemahaman akan situasi.
Cara memandang game theory adalah bahwa jumlah pemain yang sesungguhnya ada diantara jumlah dalam teori keputusan tunggal dan persaingan. Dalam teori keputusan, ada pemain tunggal yang memikirkan realisasi keadaan seseoran. Jika persaingan sempurna, jumlah pemainnya sangat banyak jadi aksi seorang pemain tidak akan mempengaruhi jalannya permainan. Dalam game theory terdapat dua tipe permainan yakni kooperatif dan nonkoperatif.
A Non-Coperatitive Game Model Of Manager-Investor Conflict
Komplik antar constituencies (kelompok pengguna laporan keuangan) dapat digolongkan dalam sebuah permainan, ketika keputusan dari masing-masin consctituencies tidak dapat disatukan. Investor menginginkan informasi yang relevan dan realibel dalam laporan keuangan untuk membantu dalam menilai resiko dan expected value dari investasinya. Sedangkan managers tidak ingin mengungkapkan semua informasi yang diinginkan investor. Manager lebih suka tidak mengungkapkan kebijakan akuntansi apa yang digunakan sehingga dia dapat memanage profit dengan directional accrual dan mengubah kebijakan akuntansi. Selain itu manajer juga takut jika terlalu banyak informasi yang dikeluarkan akan menguntungkan kompetitornya.
Situasi seperti ini dikategorikan dalam non-coporate game, karena sulit untuk mencapai kesepakatan antara manager dan investor mengenai informasi spesifik apa yang harus disediakan. Disamping itu kesepakatan yang akand icapai membutuhkan banyak biaya (costly) karena keputusan akan dinegosiasikan kepada semua user yang memiliki kebutuhan yang berbeda terhadap laporan keuangan.
 SOME MODELS OF COOPERATIVE GAME THEORY
Ø  Agreement yang menggambarkan cooperative behavior disebut juga “contract”. Dua tipe kontrak adalah employement contract (antara perusahaan dan top manager) dan lending contract (antara manager perusahaan dan bondholder)
Ø  Agency teori merupakan cabang dari game teory yang mempelajari design kontrak untuk memotivasi agen dalam hal ini manager rational untuk bertindak berdasarkan kepentingan principal, ketika kepentingan agen bertentangan dengan kepentingan principal.
Ø  Dalam employment contract, pemilik perusahaan sebagai principal dan top manager sebagai agent yang direkrut untuk menjalankan perusahaan berdasarkan kepentingan pemilik. Sedangkan dalam lending contract, lender (pemilik dana) merupakan principal agent.
Ø  Perusahaan dimodelkan terdiri dari 2 individu yang rational (investro dan manager) dengan kepentingan yang bertentangan. Kondisi yang terjadi dimana principal tidak dapat mengamati usaha yang dilakukan manager (moral hazard), sehingga mendorong manager untuk shirk on effort (tidak bekerja secara maksimal).
Manager’s Information Advantage
Ø  Ketika net income digunakan sebagai pengukur kinerja, manager akan memiliki informasi yang lebih dibanding informasi yang dimiliki owner. Hal ini disebabkan manager mengendalikan sistem akuntansi perusahaan, sedangkan owner hanya dapat mengganti perusahaan berdasarkan net income yang dihasilkan oleh manager sehingga memicu terjadinya earnings management
Ø  Berdasarkan teori, kontrak kompensasi untuk manager bisa saja didesign untuk memotivasi manager agar melaporkan earning sesungguhnya (mengeleminasi earning managemen), tapi tidak dilakukan pada prakteknya karena biayanya sangat mahal.
Ø  GAAP dapat digunakan untuk mebatasi range sejauhmana earning dapat dimanage, acoountants dapat memberikan insentive bagi manajer untuk bekerja keras.

Friday, July 21, 2017

Fenomenologi: Cara Baru Melihat Dunia Akuntansi

7:41 PM
Apa itu Fenomenologi ?
  •  Fenomonologi secara bahasa dartikan sebagai “menampak” berasal dari bahasa yunani yaitu phainomenon merujuk pada “yang menampak”.  Fenomonologi menurut wikipedia Indonesia adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena, ilmu fenomenologi biasa dihubungkan dengan ilmu hermenuetik, yaitu ilmu yang mempelajari dari arti dari fenomena itu. Fenomenologi menurut kamus besar bahasa Indonesia  adalah ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia sebagi ilmu yg mendahului ilmu filsafat atau bagian dari filsafat (nomina). Menurut The Oxford English Dictionory, yang dimaksud dengan fenomonologi adalah:
  • ·         The science of phenomena as distinct from being (ontologi)
  • ·         Division of any science wich describer and classifies its phenomena


Fenomonologi menurut beberapa pakar:
·         Edmund Husserl (1859-1938) mendefinisikan fenomenologi sebagai ilmu yang fundamental dalam berfilsafat. Fenomonologi adalah ilmu tentang hakikat dan bersifat a priori. lebih lanjut menurut Husserl, dengan fenomonologi manusia dapat mempelajari bentuk-bentuk pengalaman dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung, seolah-olah kita yang mengalaminya sendiri. Fenomonologi tidak saja mengklasifikasikan tindakan sadar yang dilakukan, namun juga meliputi prediksi terhadap tindakan di masa yang akan datang, dilihat dari aspek-aspek yang terkait dengannya. Semuanya itu bersumber dari bagaimana seseorang memaknai objek dalam pengalamannya. oleh karena itu fenomonologi juga diartikan sebagai studi tentang makna, di mana makna itu lebih luas dari sekedar bahasa yang mewakilinya.

·   Martin Heidegger dalam bukunya yang berjudul being and time (1972). Dia mendekati fenomenologi dari dua akar kata yang membentuknya yakni “logos” dan “phenomena”. Jadi fenomonologi didefinisikan sebagai pengetahuan dan keterampilan membiarkan sesuatu seperti apa adanya (letting things shoe themselves).

·       Jean-Paul Sarter memaparkan konsepsi ontologi fenomenologi dalam bukunya  Being and Nothingness. Menurutnya kesadaran adalah kesadaran akan objek, pemain utama dalam kesadaran itu adalah fenomena. Kejadian dalam fenomena adalah kesadaran dari objek. Sebatang pohon hanyalah satu fenomena dalam kesadaran, semua hal yang ada di dunia ini adalah fenomena, dan dibalik sesuatu itu ada sesuatu “sesuatu yang menjadi”  kesadaran adalah menyadari “ sesuatu dibalik sesuatu itu” atau refleksi kesadaran dari sesuatu (conscience de soi). Dengan demikian, “aku” bukanlah apa-apa, melainkan hanyalah sebuah bagian dari tindakan sadar, termasuk bebas untuk memilih.

·  Maurice Merleau-Ponty dalam bukunya yang berjudul phenomenology of perception membangun varietas fenomenologi dengan menekankan pada struktur pengalaman manusia. Ia berfokus pada “body image”, yakni pengalaman akan tubuh kita sendiri dan bagaimana pengalaman itu berpengaruh pada aktivitas yang kita lakukan.

·     Max Scheler (1874-1928) menerapkan metode fenomenologi dalam penyeledikan hakikat teori pengenalan, etika, filsafat kebudayaan, keagamaan, dan nilai. Secara skematis, pandangan scheler mengenai fenomenologi dibagi dalam tiga bagian, yakni : 1. Penghayatan(erleben) pengalaman intuitif yang langsung menuju ke “yang diberikan”. 2. Perhatian kepada “apanya” (washeit, whatness, esensi), dengan tidak memperhatikan segi eksistensi dari sesuatu. 3. Perhatian kepada hubungan satu sama lain (wesenszusammenhang) antar esensi.

·         Peter Berger membagi fenomenologi kedalam dua varian, yakni fenomenologi  hermenuitik yang memusatkan perhatiannya pada aspek kolektif dan budaya yang concern dengan bahasa. dan fenomenologi eksistensial yang bereorentasi pada level individu dari budaya yang meliputi internalisasi kesadaran subjektif dari individu. Fenomenologi Berger berupaya membangun dialektika antara individu dan lingkungan dalam menganalisi kebudayaan.

Bagaimana Metode Penelitian Pada Fenomenologi Itu
Dikarenakan Fenomenologi bertujuan untuk mengetahui dunia dari sudut pandang orang yang mengalami secara langsung atau berkaitan dengan sifat-sifat alami pengalaman manusia, dan makna yang ditempelkan padanya maka dari itu fenomenologi cenderung untuk menggunakan metode observasi, wawancara mendalam (kualitatif), dan analisis dokumen dengan metode hermeneutik pada penelitiannya. Pada dasarnya fenomonologi cenderung untuk menggunakan paradigma penelitian kualitatif sebagai landasan metodologisnya.  Adapun metode penelitian dalam fenomenologi yang cukup terkenal sekarang ini adalah metodologi penelitian fenomonologi Schuts. Dimana Schuts mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan dengan interpretasi terhadap realitas. Maka dari itu sebagai seorang peneliti kita harus bisa menggunakan metode interpretasi yang sama dengan orang yang diamati sehingga peneliti bisa masuk ke dalam dunia interpretasi orang yang dijadikan objek penelitian. Untuk mendapatkan persepsi itu scoot menyarankan agar peneliti mampu mendekati dunia kognitif objek penelitiannya. karena biasanya tindakan manusia itu cenderung terpengaruh dari posisinya dimasayarakat atau peniruan dari tindakan orang lain yang ada disekitarnya. Dengan pedekatan kognitif peneliti berharap agar tercipta hubungan yang nyaman antara objek yang diteliti dengan sipeneliti, sehingga objek peneliti mampu menjadi dirinya sendiri dan memaparkan fenomena sesuai dengan persefsinya sendiri. Ketika ia menjadi dirinya sendiri inilah yang menjadi bahan kajian penelitian sosial. Lebih jauh scoot membuat model tindakan manusia melalui proses “tipikasi”. Dimana tipikasi ini menyediakan seperangkat alat identifikasi, klasifikasi, dan model perbandingan dari tindakan dan interaksi sosial. Dengan menggunakan kriteria yang telah didefinisikan untuk penempatan fenomena ke dalam tipe-tipe khusus. 
Metodologi Penelitian fenomenologi Transedental Husserl. Landasan berpikir dari metodologi ini adalah adanya sesuatu perbedaan akan makna dan hakikat dari pengalaman yang ditemukan oleh Husserl. Husserl beranggapan bahwa terdapat perbedaan antara fakta dan esensi dalam fakta, dengan kata lain perbedaan yang real dan yang tidak. Untuk itu fenomenologis bertugas untuk menjelaskan thins in themselves, mengetahui apa yang masuk sebelum kesadaran dan memahami makna dan esensinya, dalam intuisi dan refleksi diri. Proses transformasi dari pengalama empiris ke makna esensi inilah yang kemudian dinamakan oleh Husserl sebagai “ideation”. Idation ini merupakan proses penggabungan antara apa yang terjadi seara real dan apa yang muncul dalam kesadaran diri. Hasil pemaknaan akan sesuatu itulah yang kemudian dijadikan dasar bagi pengentahuan. Berikut ini komponen-komponen konseptual (unit-unit analisi) dalam fenomenologi transedental Husserl :
a.    Kesengajaan (intentionality)
b.    Neoma dan neosis 
c.    Intuisis
d.    Intersubjektivitas

Fenomenologi digunakan untuk menangkap data yang seperti apa ?
Data dalam penelitian kualitatif memiliki ciri tersendiri, berbeda dengan data pada peneltian kuantitatif yang lebih mengedepankan angka-angka pada penelitian kualitatif data yang dibutuhkan peneliti lebih cenderung  untuk mencari atau menggali lebih dalam beberapa hal terkait persfektif, pengalaman, prilaku, esensi, makna atau lebih singkatnya melihat sesuatu sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Bagaimana teknik pengumpulan datanya ?
·         Menurut Creswell tekhnik pengumpulan data dalam penelitian fenomenologi adalah: Wawancara mendalam. Wawancara pada penelitian fenomenologi biasanya dilakukan secara informal, interaktif, dan melalui pertanyaan dan jawaban yang terbuka.
·         Refleksi diri
·         Gambaran realitas diluar konteks penelitian, misalnya novel, puisi, lingkungan, dan tarian.
·         Tahap analisis data dalam penelitain fenomenologi.
Moustakas menyajikan dua teknik analisis data fenomenologi yang telah dimodifikasi. Berikut adalah metode analisis data tersebut :

        I.        Metode analisi data fenomenologi Van Kaam
·         Membuat daftar dan pengelompokan awal data yang diperoleh. 
·         Reduksi dan eleminasi
·         Mengelompokan dan memberi tema setiap kelompok invariant consitutes yang tersisa dari proses eleminasi
·         Identifikasi final terhadap data yang diperoleh melalui proses validasi awal data
·         Mengkonstruksi deskripsi tekstural masing-masing informan, termasuk pertanyaan-pertanyaan verbal dari informan, yang berguna bagi penelitian selanjutnya.
·         Membuat deskripsi struktural, yakni penggabungan deskripsi tekstural dengan variasi imajinasi
·         Mengabungkan 2 poin terakhir diatas untuk menghasilkan makna dan esensi dari permasalahan penelitian

      II.        Metode analisis data fenomenologi stevick-colaizzi-keen
a.    Deskripsi lengkap peristiwa/fenomena yang dialami langsung oleh informan
b.     Dari pertanyaan verbal informan kemudian :
-       Menelaah setiap pernyataan verbal yang berhubungan dengan permasalahan penelitian
-       Merekam atau mencatat pernyataan yang relevan tersebut
-       Pernyataan-pernyataan yang telah dicatat kemudian dibuat daftarnya (invariant horizons/unit makna fenomena). 
-       Mengelompokkan setiap unit makna ke dalam tema-tema tertentu
-       Membuat sintesis dari unit-unit makna dan tema
-       Dengan mempertahankan refleksi penjelasan struktural diri sendiri melalui variasai imajinasi. Peneliti membuat konstruk deskripsi struktural
-       Menggabungkan deskripsi tekstural dan struktural untuk menentukan makna dan esensi dari fenomena
c.    Lakukan tahap pada bagian (b) pada setiap informan
d.    Membuat penjelasan menyeluruh dari setiap makna dan esensi fenomena yang didapat.


Friday, March 31, 2017

Prosedur Kompilasi dan Review Laporan Keuangan

8:56 AM
Pengertian dan definisi
Kompilasi laporan keuangan menurut SAR seksi 100 adalah penyajian dalam bentuk laporan keuangan, informasi yang merupakan pernyataan manajemen (pemilik) tanpa usaha untuk memberikan pernyataan suatu keyakinan apa pun terhadap laporan tersebut. (Akuntan mungkin memandang perlu untuk melakukan jasa akuntansi lainnya agar memungkinkan ia melakukan kompilasi laporan keuangan).
Review atas laporan keuangan menurut SAR seksi 100 adalah pelaksanaan prosedur permintaan keterangan dan analisis yang menghasilkan dasar memadai bagi akuntan untuk memberikan keyakinan terbatas, bahwa tidak terdapat modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar Laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, atau sesuai dengan basis akuntansi komprehensif yang lain. (Akuntan mungkin memandang perlu untuk melakukan kompilasi laporan keuangan atau melakukan jasa akuntansi lain agar memungkinkan ia melakukan suatu review).
Review mempunyai tujuan yang berbeda dengan kompilasi. Review dilakukan melalui prosedur permintaan keterangan dan analisis yang harus menjadi hal yang memadai bagi akuntan yaitu untuk memberikan keyakinan yang terbatas bahwa tidak ada modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan, sedangkan untuk kompilasi akuntan tidak memberikan keyakinan seperti itu. Selain itu, review juga berbeda dengan tujuan audit keuangan yang dilaksanakan menurut standar audit yang ditetapkan IAI yang bertujuan untuk memeroleh dan mengevaluasi bukti untuk menyatakan suatu pendapat. Review dilakukan dan hanya tertuju pada hal penting yang memengaruhi laporan keuangan namun tidak memberikan keyakinan akan mengetahui semua hal penting seperti yang dilakukan dan terungkap dalam suatu audit keseluruhan. Hal tersebut dikarenakan review tidak mencakup seluruh pemahaman dan pemerolehan suatu pengendalian intern, penetapan resiko pengendalian, pengujian catatan akuntansi dan pengujian atas respon permintaan keterangan yang memadai seperti konfirmasi, inspeksi, dan konfirmasi.
Berkaitan dengan tanggung jawabnya dalam penerbitan laporan keuangan atas suatu kompilasi dan review, akuntan diwajibkan untuk mengikuti pedoman berdasarkan standar yang sesuai seksi review dan kompilasi laporan keuangan (SAR). Akuntan juga tidak boleh mengijinkan penggunaan namanya dihubungkan dengan dokumen atau komunikasi tertulis yang memuat laporan keuangan yang tidak diaudit, kecuali ia melakukan kompilasi atau review atau laporan keuangan disertai petunjuk bahwa akuntan belum melakukan kompilasi atau review dan akuntan tidak bertanggungjawab terhadap laporan tersebut. Selain itu, akuntan dilarang menyerahkan laporan keuangan tidak diaudit kepada kliennya atau pihak lain.

Kompilasi Laporan Keuangan
Prosedur Kompilasi Laporan Keuangan
Kompilasi laporan keuangan diawali dengan bagaimana akuntan memahami entitas yang akan dilakukan kompilasi tersebut. Akuntan dituntut memiliki pengetahuan mengenai praktik dan prinsip akuntansi dari industri tempat entitas itu beroprasi agar akuntan tersebut mampu melakukan kompilasi laporan keuangan yang tepat bagi entitas dalam lingkungan tersebut. Dalam pemahaman praktik dan pengetahuan industri, akuntan dituntut untuk memperoleh tingkat pemahaman dan pengetahuan tersebut melalui publikasi mengenai industri tersebut, laporan keuangan dari industri sejenis, literatur terkait, menggali informasi dari pihak yang mempunyai pengetahuan mengenai hal tersebut, dan sebagainya.
Pada saat akan melakukan kompilasi laporan keuangan, akuntan harus memahami penuh sifat transaksi entitas yang bersangkutan, bentuk catatan atas transaksi perusahaan, bentuk dan isi laporan keuangan, juga kualifikasi para petugas pembukuannya. Berdasarkan pemahanman tersebut, akuntan harus bisa menentukan apakah memerlukan jasa akuntansi lainnya misal persiapan buku besar atau jasa konsultasi.
Dalam hal permintaan keterangan, akuntan tidak diharuskan untuk melakukan permintaan keterangan atau prosedur lainnya untuk melakukan verifikasi, menguatkan, dan mereview informasi yang disediakan klien. Akuntan dapat mengungkapkan dan menyimpulkan jika informasi yang disediakan oleh klien dinyatakan tidak benar atau tidak sesuai dengan PABU, tidak lengkap, dan tidak dapat dijadikan dasar yang memuaskan dalam penyusunan kompilasi laporan keuangan. Jika manajemen menolak memberikan informasi tambahan atau perbaikan atas informasi maka akuntan dapat menarik diri dari perikatan tersebut.
Adapun secara garis besar prosedur kompilasi laporan keuangan sebagai berikut:
·         Menumbuhkan kesepahaman dengan klien tentang kompilasi.
·         Meminta penjelasan kepada klien tentang prinsip akuntansi yang digunakan.
·         Menanyakan bagaimana pengambangan asumsi dilakukan.
·         Membuat/meminta daftar asumsi signifikan.
·         Mempertimbangkan konsistensi asumsi.
·         Menguji kecermatan matematis.
·         Membaca laporan keuangan prospektif, termasuk pengungkapan asumsi.
·         Menilai dampak hasil operasi (apabila sudah ada sebagian periode yang berlalu) terhadap laporan keuangan prospektif.
·         Mendapatkan representasi tertulis.
·         Pelaporan Atas Kompilasi Laporan Keuangan

Dalam pelaporaan kompilasi atas laporan keuangan, ketika proses kompilasi, entitas bisa saja meminta akuntan untuk melakukan kompilasi yang tidak memasukan hampir semua pengungkapan material sebagaimana yang ditetapkan oleh Prinsip Akuntansi Bertarima Umum di Indonesia, termasuk pengungkapan yang mungkin disajikan dalam laporan keuangan pokok. Hal tersebut diperbolehkan,akan tetapi harus dilaporkan dengan jelas dalam laporannya dan menyatakan bahwa hal tersebut tidak bermaksud untuk menyesatkan para penggunanya. Bila entitas tersebut berkeinginan untuk memasukkan pengungkapan hanya tentang beberapa masalah dalam bentuk catatan dalam laporan keuangan, pengungkapan seperti itu sebaiknya diberi judul “Informasi Pilihan-Tidak Mencakup Seluruh Pengungkapan Material yang Diharuskan oleh Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia.”
Suatu kompilasi terbatas pada penyajian informasi dalam bentuk laporan keuangan yang merupakan representasi manajemen (pemilik). Kami tidak melakukan audit atau review terhadap laporan keuangan terlampir tersebut dan, oleh karena itu, kami tidak menyatakan pendapat atau bentuk keyakinan lain atas laporan keuangan tersebut.

Akuntan dapat melakukan kompilasi laporan keuangan perusahaan walaupun ia tidak independen terhadap perusahaan klien asalkan akuntan menyatakan dengan jelas ketidakindependenannya.

FOLLOW @ INSTAGRAM

About Us

Recent

Random